Showing posts with label Trah. Show all posts
Showing posts with label Trah. Show all posts

9/06/2007

Rottweiler, Anjing Pekerja Peninggalan Bangsa Romawi

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa Rottweiler merupakan turunan dari anjing jenis mastiff yang digunakan oleh bangsa Romawi semasa pendudukannya di Eropa. Anjing ini terutama digunakan untuk menggembala ternak yang merupakan bahan makanan bagi tentaranya.

Trah Rottweiler yang ada saat ini diyakini dikembangkan di suatu wilayah di Jerman yang bernama Rottweil, sehingga namanya menjadi Rottweiler. Bangsa Jerman menggunakan anjing ini untuk menggembala ternak. Pada awalnya, Rottweiler juga digunakan sebagai binatang pengangkut, misalnya membawa kayu dan barang-barang lainnya ke pasar. Selain itu, mereka juga digunakan sebagai anjing penarik gerobak yang dimuati dengan berbagai barang kebutuhan pemiliknya.

Rottweiler juga dikenal sebagai anjing tukang daging/penjagal (butcher's dog). Di masa itu, selain digunakan untuk membawa ternak ke kota, Rottweiler juga digunakan untuk mengambil potongan daging dengan cara menggigit punuk ternak tersebut. Potongan daging ini digunakan sebagai contoh untuk mengetahui kualitas daging ternak. Ternak yang tidak diambil contoh dagingnya tidak akan laku terjual. Sekembalinya dari transaksi jual-beli tersebut, tukang daging akan menggantungkan kantung uangnya di leher Rottweiler dalam perjalanan pulang.

Selama Perang Dunia ke Dua, Rottweiler dipergunakan sebagai anjing penjaga. Saat ini-pun mereka seringkali digunakan sebagai anjing penjaga dan anjing polisi. Beberapa orang tak bertanggungjawab melatih anjing ini untuk terlibat dalam tindak kekerasan dan kejahatan yang berujung dengan kisah-kisah tragis dan menyedihkan. Namun demikian, Rottweiler yang terlatih dengan baik, akan menjadi anjing yang jinak seperti anjing-anjing lainnya.

Rottweiler memiliki tinggi bahu sekitar 22" sampai dengan 27" dan memiliki berat antara 85 lb s/d 120 lb. Mereka tergolong sebagai anjing 'besar' dan bisa berukuran sangat besar. Rottweiler diklasifikasikan sebagai 'anjing pekerja' oleh Ammerican Kennel Club. Pada umumnya Rottweiler berumur antara 7 s/d 10 tahun, tetapi kadang-kadang ditemukan pula Rottweiler yang berumur 12 s/d 13 tahun. Hip displasia dan penyimpangan lain seringkali ditemukan, terutama bila tidak dibiakkan dengan teliti dan hati-hati.

Anjing ini memiliki pembawaan yang sangat tenang sehingga membuatnya cocok sebagai kawan (companion) dan perlindungan keluarga. Di Amerika, anjing ini pernah menjadi anjing terpopuler, dan saat ini masih cukup populer sehingga menduduki posisi ke-dua atau ke-tiga.

Rottweiler adalah anjing yang sangat cerdas dan memiliki keinginan yang kuat untuk menyenangkan tuannya. Rottweiler membutuhkan perhatian, dan sebagai imbalannya mereka sangat loyal dan setia. Jika mereka merasakan adanya bahaya yang mengancam keluarganya, mereka akan melindunginya bahkan dengan taruhan nyawanya. Seperti halnya anjing jenis besar lainnya, Rottweiler memerlukan tuan yang dominan dan terbiasa menangani anjing besar. Apabila tidak ditangani dengan baik, mereka akan cenderung menguji/menantang otoritas pawangnya (handler).

Rottweiler merupakan binatang yang sangat kuat sehingga tidak boleh menjadi dominan. Mereka harus diajar mengerti siapa tuannya. Sekali mengetahui siapa tuannya, mereka akan dengan rela menyerahkan otoritas kepada pawangnya. Pada umumnya Rottweiler bersikap baik pada binatang lain di sekitarnya. Sebagian besar Rottweiler dapat menerima kucing atau binatang kecil lainnya sebagai bagian dari keluarga apabila sejak kecil dibesarkan dengan mereka. Apabila Rottweiler tidak dibesarkan bersama binatang lain yang lebih kecil, pengawasan dalam bersosialisasi merupakan keharusan.

Dikarenakan ukuran dan kekuatannya yang sangat besar, Rottweiler tidak disarankan berada di sekitar anak-anak balita. Di sisi lain, tangisan dan teriakan anak-anak balita bisa disalah-artikan oleh anjing sehingga dapat berakibat fatal. Meninggalkan anjing bersama balita tanpa pengawasan harus dihindari.

Sikap mental anjing adalah hasil dari pelatihan. Seperti halnya anjing lainnya, Rottweiler harus dilatih kepatuhan. Mereka sangat menikmati sesi-sesi pelatihan dan mudah mengerti dan memahami perintah-perintah yang diberikan. Namun, seperti halnya anjing lainnya, Rottweiler perlu disosialisasikan dengan anjing lain di tempat umum. Mereka juga perlu diajak berjalan-jalan di tempat umum dan bertemu dengan orang lain sehingga mereka dapat menerima orang lain di luar keluarga pemilik. Seringkali, anjing yang tidak terbiasa bersosialisasi menjadi ketakutan dan menyerang orang atau binatang lain tanpa alasan yang jelas.

Rottweiler membutuhkan latihan/olahraga setiap hari, dan lebih menyukai adanya halaman untuk bermain. Lari pagi bersama merupakan kergiatan yang sangat baik, karena Rottweiler memiliki kesempatan untuk menyenangkan hati tuannya.

Merawat bulu (grooming) Rottweiler cukup mudah. Mereka perlu disisir untuk menghilangkan bulu-bulu halus yang mati. Kalau tidak disisir, bulu-bulu tersebut akan rontok dengan sendirinya dan bertebaran. Sediakan beberapa menit seminggu untuk menyisir dan menyikat Rottweiler anda sehingga kerontokan bulu dapat teratasi. Mandi setiap tiga atau empat minggu sekali cukup membantu mengatasi parasit, bulu rontok serta membantu memelihara kondisi kulit yang sehat. (Poerwadi Waspodo, 20/02/04)

Dobermann

Dobermann, Trah Unik Hasil Rekayasa Manusia

Kisah tentang Dobermann berawal kurang lebih seratus tahun yang lalu di Apolda, Thuringia, Jerman. Seorang penjaga malam dan penangkap anjing liar bernama Louis Dobermann (1/2/1834 - 6/9/1894) ingin memiliki seekor anjing sahabat yang berani untuk menemaninya bekerja sehari-hari. Dia memerlukan seekor anjing berukuran sedang yang berpenampilan cakep dan gesit namun kuat dan berani, serta patuh dan setia pada tuannya.

Dia mempelajari dan mencari beberapa trah anjing namun tidak kunjung menemukan apa yang diinginkannya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengembangkan sendiri jenis anjing yang sesuai keinginannya itu dengan menyilangkan beberapa trah anjing yang berbeda-beda, yang masing-masing memiliki ciri-ciri yang diinginkan. Gambaran ini muncul pada sosok Graf Belling vom Grönland, Dobermann pertama yang terdaftar di National Dobermann Stud Book. Dia lahir pada tanggal 13 Juni 1898 dan masih menunjukkan ciri-ciri beberapa trah yang digunakan untuk membuatnya.

Sepeninggal Louis Dobermann, masyarakat Jerman menamakan trah anjing tersebut Dobermann Pinscher untuk mengenangnya. Namun setengah abad kemudian kata ’pinscher’ dihilangkan dengan pertimbangan bahwa kata dalam bahasa Jerman yang berarti ‘terrier’ tersebut tidak tepat untuk digunakan. Masyarakat Inggris mengikutinya beberapa tahun kemudian. Miniature Pinscher bukanlah miniature Dobermann dan keduanya tidak saling berhubungan.

Meskipun tidak terdapat catatan pada pembiakan awalnya, beberapa kajian terhadap latar belakang Dobermann menyimpulkan adanya beberapa trah yang terlibat sebagai berikut :

  1. Rottweiler. Pada versi awal, trah ini kemungkinan digunakan untuk mendapatkan kekuatan, keberanian dan ketangguhan.
  2. Black & Tan Terrier. Saat ini dikenal sebagai Manchester Terrier dan German Pinscher. Trah ini kemungkinan digunakan untuk mendapatkan ketangkasan, kegesitan serta dorongan yang tinggi untuk mengejar buruannya.
  3. Weimaraner dan beberapa anjing pemburu lainnya digunakan untuk memperoleh daya tahan, ketabahan dan insting yang superior.
  4. Greyhound. Mungkin digunakan untuk mendapatkan penampilan yang anggun, langsing dan berkecepatan tinggi

    Pada tahun 1899, para penggemar Dobermann membentuk klub trah Dobermann pertama yang kemudian dikenal sebagai DV (Dobermann Verein = Dobermann Club). Klub ini mengembangkan standar trah resmi yang pertama sebagai panduan bagi para pembiak dan penggemar untuk mengetahui bagaimana bentuk penampilan dan perilaku/sifat Dobermann yang benar.

Perkembangan trah Dobermann berlangsung demikian cepatnya sehingga pada tahun 1930-an sosok dan karakternya telah terbentuk seperti yang kita lihat sekarang ini.

Tidak seperti trah anjing lainnya yang berevolusi abad demi abad mengikuti kehendak alam, Dobermann merupakan contoh unik yang menggambarkan ketekunan dan prestasi manusia dalam pemuliabiakan anjing. (Poerwadi Waspodo)

9/05/2007

Afghan Hound, Anjing Gurun Bawaan Nabi Nuh

Anjing jenis Afghan diketahui keberadaannya kurang lebih tiga ribu tahun sebelum masehi dari catatan papyrus dan relief pada dinding-dinding piramid di Lembah Raja-raja Mesir
Sejarawan arkeologi bahkan memperkirakan trah ini telah ada sejak tujuh ribu tahun yang lalu, dan diperkirakan berasal dari Gunung Nabi Musa di Semenanjung Sinai. Ada pula teori sejarah lain yang menunjukkan keberadaan anjing sejenis yang hidup di seluruh benua Asia di masa yang sama.

Di Afghanistan, dari mana anjing ini mendapatkan namanya, Afghan Hound secara tidak resmi menjadi ‘anjing nasional’, dan penduduk asli Afghanistan menganggap dan percaya bahwa anjing bertampang moyet atau baboon ini adalah anjing yang terpilih untuk menemani Nabi Nuh di bahteranya dalam menghindari banjir besar yang melanda dunia di masa itu. Mereka juga percaya bahwa Afghan Hound adalah anjing yang diukir di dinding gua di bagian utara propinsi Balkh. Itulah sebabnya anjing Afghan juga sering disebut sebagai Balkh Hound.

Pendapat ini ditambah dengan keyakinan bahwa Afghan Hound adalah satu-satunya anjing yang disebut di kitab Perjanjian Baru Bibel, selalu menjadi bahan perdebatan. Akan lebih seru lagi apabila para penggemar Afghan Hound bertemu dengan penggemar Saluki dan Greyhound, karena mereka masing-masing berpendapat bahwa anjing merekalah yang disebut di Bibel, atau kalaupun tidak, anjing merekalah yang pertama dan anjing-anjing lainnya adalah yang ke-dua dan ke-tiga !!

Jackson Sanford dalam tulisan ilmiahnya menyatakan bahwa Afghan Hound memiliki ciri dan struktur yang mirip dengan seekor binatang yang ditemukan hidup lebih dari seratus ribu tahun yang lalu. Berdasarkan pada perbandingan struktur tulangnya, Afghan Hound memiliki kesamaan dengan binatang purbakala mirip anjing yang hidup di Asia dan bahkan diyakini keberadaannya hingga di Amerika Utara dua juta tahun yang lalu.

Selain untuk melindunginya dari hawa dingin, bulu yang lebat juga berfungsi untuk melindungi pemburu dari sengatan matahari ketika mereka berjalan kaki melintasi gurun pasir. Telapak kaki dan cakar yang besar dan tebal serta tubuh bagian belakang yang kuat menjadikan Afghan Hound cocok sebagai ‘anjing gurun’ yang berkemampuan baik untuk melintasi padang pasir yang panas serta menapaki keterjalan gunung-gunung dan bebatuan. Hal ini menjadikan bangsa Asia dan Timur Tengah mengembangkan dan mempekerjakan ‘anjing segala musim’ ini sebagai bagian penting dari kehidupannya dan tentunya hal ini membantu pelestariannya.

Di Mesir, dimana hanya binatang tertentu yang dipuja, misalnya sapi Brahma dan kucing, Afghan Hound boleh berbangga hati mendapat kehormatan sebagai binatang sahabat para raja. Afghan Hound juga memegang peranan penting dalam bidang keagamaan. Sebuah legenda menceritakan seekor anjing menjadi penunjuk jalan bagi Isis, Dewi Ibu dan Kesuburan, ketika mencari saudara dan suaminya Osiris, seorang raja Mesir yang bijaksana yang dibunuh dengan kejam dan dibuang ke sungai Nil oleh saudaranya. Peran anjing dalam membantu mengembalikan kejayaannya hingga mengangkat statusnya menjadi dewa agung telah membantu melindungi Afghan Hound dari kepunahan. Selain berperan sebagai sahabat para raja, Afghan Hound juga digunakan sebagai anjing penjaga di sepanjang perbatasan untuk melindungi dari serangan suku-suku lain yang biasanya masuk dengan cara mengendap-endap dari gurun pasir untuk mencuri. Sebagai teman tidur di siang hari dan pengawal dalam menempuh perjalanan di sekitar oasis dan perkotaan pada malam hari, Afghan Hound terkadang juga dilatih untuk mencuri di perkampungan oleh pemiliknya. Ini adalah ancaman yang menyertainya berabad-abad. Para pemilik Afghan Hound pada umumnya telah mengetahui bahwa anjingnya memiliki kapandaian mencuri, dan jauh di dalam lubuk hati setiap anjing trah murni Afghan Hound selalu tersembunyi sedikit jiwa 'pencuri'. (Poerwadi Waspodo)

Golden Retriever

Standar

Golden Retriever, Sahabat Keluarga yang Serbaguna
(Poerwadi Waspodo)

Golden Retriever pertama kali dikembangkan oleh seorang bangsawan Inggris pada pertengahan tahun 1800-an yang bernama Lord Tweedmouth (d/h Sir Dudley Majoribanks). Sejarah pengembangannya diawali dengan keinginan Lord Tweedmouth untuk memiliki anjing trah murni berwarna kuning yang akan digunakannya untuk mengambil (retrieve) burung hasil buruan.

Usahanya dimulai pada tahun 1865 ketika dia mengunjungi the Earl of Chichester, seorang pembiak anjing. Lord Tweedmouth membeli seekor anak anjing yang memiliki bulu berombak berwarna kuning anakan anjing jenis Black Retrievers. Anjing ini diberi nama Nous, dan kelak akan menjadi fondasi bagi pengembangan trah Golden Retriever.

Pada tahun 1867, Lord Tweedmouth diberi seekor anjing Tweed Water Spaniel betina yang bernama Belle. Setahun kemudian, Belle melahirkan 4 anak anjing betina berwarna kuning, hasil perkawinannya dengan Nous. Salah satu anak anjing ini diberi nama Cowslip (nama bunga liar di Inggris) yang pada tahun 1873 melahirkan Topsy, hasil perkawinannya dengan seekor Water Spaniel yang lain.

Pada tahun 1876 Cowslip dikawinkan lagi dengan seekor anjing Red Setter dan melahirkan Jack. Kemudian Topsy dikawinkan dengan seekor Black Retriever yang berbulu berombak bernama Sambo dan menghasilkan anak yang bernama Zoe. Zoe dikawinkan inbred dengan Jack menghasilkan Gill and Nous II

Gill kemudian dikawinkan dengan seekor Black Retriever bernama Tracer dan melahirkan Quennie pada tahun 1882. Pada tahun 1889 Quennie dikawinkan inbred dengan Nous II menghasilkan Prim and Rose. Dengan demikian Prim and Rose adalah 47% Setter, 35% Lesser St.Johns Newsfoundland, 12% Springer Spaniel dan 6% Water Spaniel Dog.
Keinginan Lord Tweedmouth untuk memiliki anjing yang cantik, cerdas dan ramah baru terwujud kira-kira seperempat abad kemudian!

Pada tahun 1903, trah ini terdaftar di Klub Kennel Inggris sebagai anjing "Flat Coats -- Golden". Pada tahun 1904, uji lapangan trah ini dilakukan untuk pertama kalinya dan di antara para peserta ujian (conformation) terdapat Culham Brass and Culham Copper. Pada tahun 1911, mereka diakui sebagai trah tersendiri dan disebut dengan "Yellow or Golden Retrievers,". Pada tahun 1920 kata ‘Yelow’ dihilangkan sehingga nama trah ini menjadi Golden Retriever.
Sejak itu, popularitas anjing ini terus berkembang ke seluruh penjuru dunia. Para pembiak berhasil mempertahankan instink sportnya (karya-guna) dan di sisi lain berhasil mengembangkan kecantikannya sehingga berprestasi dalam ajang pameran. Kemampuannya yang luar biasa dalam mengikuti pelatihan (extremely trainable) dikombinasikan dengan temperamennya yang kalem, menjadikan Golden Retriever sebagai anjing yang sangat mudah patuh dan memiliki catatan yang istimewa sebagai penuntun orang buta. Dilaporkan bahwa dalam kelas-kelas pelatihan anjing penuntun orang buta, Golden Retriever memiliki angka kegagalan paling sedikit dibandingkan dengan trah lainnya.

Dari sisi warna, pada awalnya golden retriever memiliki range antara emas sedang (medium gold), emas gelap (dark gold) sampai ke emas tembaga (copper gold). Popularitas Golden Retriever yang semakin meningkat di arena pameran (showring) memunculkan warna-warna yang lebih muda/terang, seperti sering kita lihat sekarang. Saat ini warna Golden Retriever memiliki range dari krem (cream) ke emas gelap (dark gold) dengan warna-warna muda/terang cenderung lebih disukai dibandingkan dengan warna-warna gelap aslinya.
Saat ini Golden Retriever amat dikenal karena kecantikannya. Mereka adalah anjing dengan ekspresi yang ramah, bermata warna gelap yang cantik, dan ekor yang berkibas-kibas mengungkapkan kegembiraannya.

Golden Retriever juga dikenal karena temperamennya. Golden Retriever yang dibiakkan secara baik akan memiliki sifat ramah, lembut, baik, loyal, gembira, percaya diri dan ekspresif. Tidak malas dan juga sebaliknya tidak hiper aktif, menjadikannya mudah beradaptasi dengan berbagai macam lingkungan rumah-tangga. Di sisi lain, dibalik keramahan dan kelembutannya, Golden Retriever juga tampil istimewa sebagai anjing karya-guna. Golden Retriever akan berjuang untuk membahagiakan pemiliknya setelah dilatih dan mengetahui keinginan pemiliknya. Anda akan terpukau dengan keinginan, semangat dan usahanya untuk selalu menyenangkan Anda. Penting untuk dicatat, tiga anjing pertama yang lulus ujian karya guna di Amerika (AKC-American Kennel Club) adalah Golden Retriever. (Poerwadi Waspodo)

3/14/2007

Rentan Sakit Mata, Pug Mulai Ditinggalkan

PAMOR anjing hias jenis Pug lambat-laun mulai hilang seiring dengan banyaknya alternatif anjing-anjing sejenisnya yang dinilai lebih bagus. Faktor lain juga karena Pug kerap diserang penyakit mata, sehingga mau tidak mau hobiis pun secara bertahap meninggalkannya. Tak pelak, nasib anjing yang beberapa tahun lalu sempat jadi booming dan banyak peminatnya itu pun kini merana. Sedikitnya jumlah hobiis anjing hias yang memelihara dan merawat Pug akhirnya membawa dampak kurang baik bagi para pengembangbiak jenis Pug. Mereka mengalami penurunan omzet akibat banyak penjual yang enggan menjual anjing ini. Terbukti, di beberapa pet shop di kota Yogya mengalami ‘kelesuan’ konsumen. Hal ini seperti diungkapkan oleh Budi S (27) warga Moyudan, Godean, Sleman.”Sekitar 1 tahun belakangan ini peminat anjing Pug menurun drastis. Hobiis lebih suka memilih dan memelihara anjing jenis lain seperti pom atau teckel. Imbasnya, beberapa pengembangbiak ikut seret,” terangnya kepada Merapi, kemarin.

Menurutnya, Pug memang memiliki banyak kelemahan dibanding anjing sejenisnya. Dimana, bola mata yang besar dan menonjol, sehingga terkesan terbelalak, itu sering terserang berbagai serangan penyakit. Maka, Pug harus mendapatkan tempat tersendiri serta harus dijauhkan dari anjing-anjing lain guna menghindari terkena cakaran. Selain itu bulu-bulunya yang tipis dan halus juga mudah mengalami kerontokan. ”Memelihara dan merawat Pug tidak mudah. Butuh waktu ekstra dalam pengawasannya. Mengingat bola batanya yang besar, membuatnya sering terkena cakaran ketika sedang bercanda bersama anjing-anjing lain. Kalau sudah sakit, butuh waktu lama menyembuhkannya dan butuh biaya tidak sedikit. Sehingga, kalau punya anjing ini harus dipisahkan dari anjing lain,” imbuh Budi lagi.

Sebaliknya, anjing Pug bukanlah sosok anjing yang mau diam. Karakternya yang hiperaktif menjadikannya anjing hias yang sangat lincah. Untuk itulah, hobiis Pug kerap mengalami kesulitan. Jika dilepas bebas, ia mudah terserang matanya kendati hanya bercanda. Tapi, bila dibiarkan sendiri dengan selalu mengurungnya dikandang, suatu ketika dapat mengakibatkan stres.”Sekarang ini nyaris bisa dihitung dengan jari para hobiis yang mau masih memeliharanya. Mayoritas sudah banyak yang dijual. Demikian halnya soal harga, Pug saat ini menurun drastis. Untuk usia 6 bulan Rp 2 juta. Padahal dulunya jauh lebih mahal,” tandasnya.

Meskipun Pug memiliki kelemahan sebagai anjing yang rentan terserang penyakit mata dan bulu, tapi Pug juga memiliki kelebihan sama seperti anjing-anjing hias kerdil sejenisnya. Pug mudah menyerap ilmu-ilmu (latihan) yang diberikan oleh pelatih anjing maupun pemiliknya. Menurut Budi, Pug tergolong anjing kerdil yang punya intelejensi tinggi. Begitu diberikan petunjuk (arahan) pada setiap sesi latihan, seperti mengambil atau membuang benda-benda milik sang pemilik atau diminta duduk, berdiri dan pergi, Pug hanya butuh waktu relatif singkat untuk memahaminya.

Sementara, guna mengembalikan kepercayaan hobiis anjing untuk dapat memilih kembali anjing ini sebagai hewan peliharaannya, hingga detik ini para peternak sekaligus pengembangbiak belum menemukan langkah-langkah jitunya. ”Tapi saya yakin, suatu ketika seiring perjalanan waktu, Pug akan kembali diminati hobiisnya,” tukas Budi.(W-2/W-1)-b (koranmerapi.com, 14 Maret 2007)

4/03/2006

Shih Tzu, Anjing Singa dari Tibet

Anjing berbulu lebat dan panjang menjuntai hingga ke lantai ini berasal dari Tibet. Nama Shih Tzu dalam bahasa Cina berarti anjing singa (lion dog). Maka tidaklah heran bila anjing Shih Tzu sering juga disebut sebagai anjing singa. Dan ada pula yang menamakannya sebagai Chrys Dog. Shih Tzu termasuk salah satu anjing eklusif Budha termasuk Lhasa Apso dan Tibetan Spaniel.

Sejarah

Pada tahun 1850 biarawan Budha memberikan beberapa anjing berharganya kepada Kaisar Manchu di Peking sehingga masyarakat Cina menyebutnya Tibetan Shih Tzu atau Tibetan Lion Dog. Pada tahun 1908, Dalai Lama, pemimpin Tibet, memberikan beberapa anjing Shih Tzu kepada Tzu Hsi, Dowager Empress pada Dinasti Manchu. The Empress yang terkenal suka dengan pekingese ini menambahkan Shih Tzu sebagai piaraan kesayangannya.

Penampilan Umum

Tubuh Shih Tzu dipenuhi dengan bulu yang panjang menjuntai hingga lantai. Kadang sedikit bergelombang tetapi tidak sampai keriting. Bulu di atas kepalanya sering diikat dengan pita sehingga lebih menarik.

Badannya lebih panjang daripada tingginya. Tinggi badan anjing betina antara 23 -27 cm sedangkan tinggi badan anjing jantan antara 26-27 cm. Berat badan antara 4-8 kg. Kepalanya bulat dan lebar dengan rambut jatuh di mata. Matanya besar dan bulat dan harus hitam, tidak boleh kecoklatan apalagi merah/pink. Moncongnya pendek, kotak dan rata. Telinganya lebar menjuntai ke bawah dan dipenuhi bulu. Rahang bawah lebih maju daripada rahang atas (undershoot). Giginya tidak boleh keluar dari bibir ketika mulut mengatup. Jumlah gigi seri atas dan bawah yang tepat masing-masing 6 buah tidak termasuk gigi taring. Leher tinggi, anggun dan menarik, disesuaikan dengan panjang badan dan ekor. Kakinya pendek dan berotot. Gaya berjalannya tenang seiring dengan pembawaan kepala dan ekor. Mengenai warna bisa kita jumpai dalam berbagai warna: hitam, keemasan dan merah. Jangka hidup Shih Tzu berkisar antara 10 -14 tahun. Bisa menghasilkan anakan antara 4 - 6 ekor, meskipun ada yang dapat mencapai 9 ekor anakan.

Temperamen

Temperamennya lemah lembut, setia namun agak angkuh. Shih Tzu termasuk anjing yang pintar, suka belajar dan bermain meskipun kadang kala bisa keras kepala. Namun dengan kesabaran dan ketekunan, anjing ini bisa menjadi patuh kepada anda.

Shih Tzu sering cemburu terhadap bayi atau anak yang beranjak dewasa terutama jika dia diganggu oleh kekasaran atau keributan anak-anak. Tetapi dia bisa menjadi teman yang baik bagi anak yang lebih dewasa dan yang senang menyisir rambutnya. Shih Tzu termasuk anjing yang aktif dan siap siaga sehingga membuatnya bagus juga sebagai anjing pengawas.

Perawatan

Bulunya yang lebat dan menjuntai hingga lantai memerlukan perawatan yang baik. Tanpa perawatan yang baik bulunya bisa menjadi kusut dan akan menyiksa Shih Tzu. Bulunya harus sering dipotong agar tidak terseret. Dengan perawatan yang baik anjing ini hanya akan mengalami sedikit masalah terhadap kulitnya. Sebaliknya, perawatan yang kurang akan menyebabkan infeksi kulit. Shih Tzu sebaiknya dimandikan paling tidak sebulan sekali.

Penyakit yang sering muncul adalah penyakit ginjal atau terkilir pada tempurung lututnya. Sedangkan rambut yang tumbuh menutup matanya yang agak menonjol keluar menjadikannya mudah terluka. Moncongnya yang pendek terkadang menghadapi masalah dikarenakan seringnya mendesah. (Reni Anggraini, 3 April 2006)

3/31/2006

Pekingese, Singa Mungil Dari Cina

Nama Pekingese diambil dari kata peking, yaitu nama ibukota Cina sebelum berubah menjadi Beijing yang kemudian dipakai hingga saat ini. Menurut penelitian, Pekingese termasuk salah satu trah anjing tertua di dunia. Untuk beberapa abad lamanya, Pekingese hanya dimiliki oleh anggota istana kerajaan Cina. Rakyat tidak diperbolehkan memeliharanya.

Sejarah

Dikisahkan ada seekor singa yang jauh cinta kepada seekor marmoset. Singa itu kemudian mendatangi Ah Chu, biarawan yang menjadi pelindung para hewan, untuk membantunya. Ah Chu mendukung keinginan sang singa untuk 'menikah' dengan marmoset, dengan satu syarat Sang Singa harus mengorbankan ukurannya menjadi seukuran marmoset. Sang Singa setuju tetapi minta agar karakter dan hatinya sebagai seekor singa tidak dikorbankan. Konon dari perpaduan Sang Singa dan marmoset ini lahirlah Pekingese.

Pada tahun 1860 Kerajaan Cina diserang oleh tentara barat. Kaisar Xian Feng melarikan diri dari istana tetapi bibinya tetap tinggal di istana. Saat tentara barat tersebut masuk menyerbu istana, Sang Bibi bunuh diri ditunggui lima ekor Pekingese kesayangannya. Kelima Pekingese tersebut kemudian dibawa oleh tentara barat sebelum The Old Summer Palace dibakar.

Lord John Hay menerima sepasang pekingese yang kemudian diberi nama "Schloff" dan "Hytien" dan memberikannya kepada saudara perempuannya, The Duchess of Wellington, istri Henry Wellesley, 3rd Duke of Wellington. Sir George Fitzroy menerima sepasang lainnya dan memberikannya kepada sepupunya, the Duke dan Duchess of Richmond and Gordon. Lieuitenant Dunne menghadiahkan pekingese ke lima kepada Ratu Victoria dari Inggris yang kemudian memberinya nama Looty. Semua ini menjadi awal tumbuhnya keinginan para penggemar anjing untuk memelihara dan mengembangkannya. (Reni Anggraini, 31 Maret 2006)

Chihuahua, Anjing Terkecil di Dunia

Anjing ini ditemukan di Mexico pada tahun 1850. Nama Chihuahua sendiri diambil dari nama salah satu negara bagian, yaitu Chihuahua, yang terletak di perbatasan antara West Texas dan New Mexico. Anjing berukuran mini ini diyakini merupakan keturunan anjing Techichi yang hidup di jaman suku Mayan sekitar abad ke 5 SM. Masyarakat Mexico kuno meyakini, dan tidak akan pernah melupakan, bahwa Chihuahua adalah hewan keramat.

Dikisahkan bahwa suku Toltec, yang berhasil menaklukkan suku Mayan, dipercaya sebagai orang pertama yang berhasil menjinakkan anjing Techichi dan kemudian membawanya ke rumah sebagai binatang peliharaan dan menggunakannya dalam upacara keagamaan. Techichi digambarkan sebagai anjing mungil yang berbulu panjang. Badannya lebih panjang daripada Chihuahua sekarang ini dan bisu.

Tak berselang lama suku Toltec ditaklukkan oleh suku Aztec. Meskipun suku Aztec telah menjadi penguasa namun Techichi masih dianggap sebagai simbol dalam upacara keagamaan.

Sejak saat itulah Techichi menjadi terkenal. Techichi yang berwarna biru dianggap sebagai anjing suci. Sedangkan Techichi yang berwarna merah digunakan sebagai binatang kurban. Jika ada kaum bangsawan suku Aztec meninggal, Techichi ikut dibakar bersama jenazah bangsawan tersebut, karena diyakini bahwa dosa bangsawan tsb bisa berpindah ke tubuh Techichi yang terbakar. Techihi juga dipercaya dapat menuntun roh menuju ke surga.

Sejarah ini diketahui berdasarkan tulisan-tulisan peninggalan suku Mayan, Toltec dan Aztec yang ditemukan di makam, candi ataupun piramid. Dengan berjalannya waktu Techichi dikawinsilangkan dengan hairless dog (anjing tanpa bulu) yang kita kenal sebagai Chinese Crested dog. Hasil silang antara dua anjing inilah yang kemudian menghasilkan trah anjing terkecil di dunia, yang kita kenal dengan sebutan Chihuahua.

Chihuahua mempunyai badan yang ramping dengan bentuk lebih panjang dibanding tingginya. Ukuran badannya kecil. Beratnya antara 1-3 kg. Tidak ada ukuran standar mengenai tingginya tetapi hampir semua Chihuhuaa memiliki tinggi sekitar 6-8 inch. Raut mukanya seperti sedang curiga (saucy expression). Raut mukanya pun akan tampak tidak menyenangkan, galak, sombong dan angkuh jika dalam keadaan gusar.

Chihuahua memiliki 2 varietas bulu yaitu bulu mulus ( smooth coated) dan bulu panjang (long haired). Chihuahua berbulu panjang mempunyai bulu yang kadang lurus namun bisa juga keriting. Dari sisi warna, Chihuahua bisa berwarna solid seperti coklat, hitam, putih, krem dll. Namun bisa juga party color seperti putih campur coklat, hitam dan tan atupun mempunyai bercak dengan putih sebagai warna dasar, misalnya loreng (brindle).

Chihuahua memiliki batok kepala yang berbentuk buah apel (apple domed) dan akan kelihatan bulat dilihat dari sudut pandang manapun. Moncongnya pendek dengan ujung ramping. Jika dilihat dari samping antara moncong dan kepala memiliki sudut 90 derajat.

Warna matanya gelap. Telinganya lebar dan akan berdiri tegak ketika dalam keadaan siaga. Telinganya akan mengembang ke samping jika dalam keadaan istirahat. Warna hidung tergantung dari warna anjing tersebut. Bisa berwarna biru, pirang, hitam, coklat ataupun moles. Warna merah muda juga kadang ditemukan jika bulu anjing berwarna pirang.

Lehernya melengkung ramping dan melandai di bahu. Bahunya lebar. Kakinya sangat kecil. Ekornya panjang dan biasanya melengkung ke arah punggung menunjuk ke arah kepala.

Seekor Chihuahua betina dapat melahirkan antara 1 - 3 ekor anakan saja. Seringkali proses melahirkannya memerlukan bantuan dokter hewan, karena Chihuahua mudah kelelahan sehingga seringkali harus melalui pembedahan.

Anakan Chihuahua yang baru lahir memiliki bobot antar 60 g sampai 90 gr dengan panjang sekitar 10 cm. Chihuahua padaa saat lahir memiliki molera (lubang) di atas kepala yang akan merapat atau menghilang saat dewasa. Umur Chihuhua kadang bisa mencapai 16 tahun.

Chihuahua termasuk anjing yang mudah dirawat. Chihuahua harus disikat/disisir
sedikitnya 2 kali dalam seminggu. Mereka juga tidak perlu sering dimandikan, apalagi bila dipelihara di dalam rumah yang ber AC, cukup sebulan sekali. Chihuahua juga tidak memerlukan latihan khusus. Cukup lepaskan mereka ke tempat yang aman dan mereka akan bermain.

Karena ukurannya yang kecil, Chihuahua hanya memerlukan sedikit makanan. Chihuahua dewasa hanya memerlukan 50 gr dogfood kualitas premium tiap harinya. Chihuahua mudah dipelihara namun tidak menyukai anjing trah lain. Jadi, bila anda telah memiliki seekor Chihuahua dan ingin memiliki lebih dari satu anjing, maka Chihuahua adalah pilihan terbaik. Namun jika Anda sudah mempunyai anjing trah lain, maka pertimbangkanlah terlebih dahulu sebelum memilih Chihuahua sebagai tambahannya. (Reni Anggraini, 31 Maret 2006)

2/23/2005

Kintamani - Anjing Bali

standar - artikel - links

Sekilas Tentang Pengalaman Pribadi dalam Sejarah dan Perkembangan Anjing Kintamani (Bali)

oleh : drh. Pudji Rahardjo


Pendahuluan

Diperkirakan ada sekitar 400 ras jenis anjing di dunia telah terdaftar pada Federation Cynologique Internationale (F.C.I.) dan barangkali baru setengahnya terdaftar pada PERKIN (Perkumpulan Kinologi Indonesia), dan ada kemungkinan jumlah tersebut terus bertambah baik oleh adanya persilangan maupun pengenalan ras baru dan hasil rekayasa manusia.
Pulau Bali yang memiliki beberapa jenis plasma nutfah flora dan fauna seperti Salak Bali, Jeruk Bali, Jalak Bali, Sapi Bali, barangkali di tahun mendatang menghasilkan plasma nutfah barn yaitu Anjing Kintamani (Bali) dan akan menjadi Anjing Ras pertama di Indonesia.

Anjing Bali yang lazim disebut Anjing Kintamani adalah jenis anjing lokal yang banyak dijumpai di kawasan pegunungan Batur. Karena habitatnya di kawasan pegunungan sebágai kompensasi bulunya tebal dan berfungsi sebagai selimut tubuhnya. Anjing ini sebenarnya sudah dikenal lama oleh masyarakat Bali, sejak tahun 1970-an telah diperjualbelikan oleh masyarakat setempat, di kawasan wisata Kintamani juga di daerah perkotaan seperti Denpasar. Di beberapa kota besar yang berada di Pulau Jawa misalnya Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang masyarakat penggemar anjing juga mengenalnya. Di manca negara seperti Belanda, Perancis Belgia, Australia, Amerika, Jepang juga mengenal Anjing Bali, hal ini terjadi karena ketika penggemar dan manca negara tinggal di Bali, pada waktu kembali ke negaranya anjing kesayangannya juga dibawa dan dikembangkan, sehingga keturunannya dapat menyebar ke negara lain yang berdekatan.

Kenapa anjing ini dapat dikembangkan di seluruh wilayah?
Karena memiliki keunggulan utama yaitu berasal dan daerah bebas dan penyakit Rabies
Kalangan masyarakat menciri anjing ini tidak terlalu besar, juga tidak tergolong kecil, dengan bentuk tubuh yang tampak kokoh dengan bagian-bagian yang serasi menjadikan anjing ini tampak dinamis dan serasi, mempunyai tinggi gumba rata-rata antara 40 Cm-55 Cm, proporsi letak mata, telinga, moncong, giginya menggunting serasi dengan bentuk kepala dan leher tampak kokoh dengan dahi datar agak melengkung. Berbulu Gembrong (tebal) di daerah gumba terdapat Badong.

Badong adalah bulu yang lebih panjang bila dibandingkan dengan bulu yang terdapat di punggung dan berbentuk kipas yang memanjang sampai pangkal ekor. Dilengkapi bentuk kaki yang lurus dan serasi, ekornya keatas membentuk sudut 45 derajat dan pangkal ekor dengan ujung ekor yang terurai, seperti umbul-umbul.

Seperti anjing yang ada di dunia Anjing Bali (Kintamani) dikelompokkan dalam suku Canis familiaris var Bali-Kintamani. Dikatakan demikian karena habitat dan kawasan sebaran populasi meliputi Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, Provensi Bali. Pada tahun 1980 an di desa Sukawana yang paling banyak populasinya,sehingga daerah ini dianggap sebagai asal-usul Anjing Bali (Kintamani), bahkan sebagai kawasan plasma nutfah, namun asal-usul yang pasti belum banyak diungkapkan atau diketahui melalui penelitian dan kepustakaan, hanya sekedar opini dan wacana.

Hampir mirip dengan Anjing Bali terdapat juga di kawasan pegunungan benua Australia (Konsultasi pnbadi dengan drh. Gde Kerta Yadnya, 1985), di kawasan pegunungan negara Thailand (Konsultasi pribadi dengan drh. Roesbandi,1985), dan di kawasan gunung Fuji yang terletak di Pulau Honshu.- Jepang (Konsultasi pribadi dengan Atsuko H, 1985) Masyarakat Pulau Bali, khususnya masyarakat Kintamani telah lama mengenal dan memelihara Anjing Kintamani sebagai anjing khas Pulau Dewata. Keberadaannya dikenal sebagai Anjing Gembrong berasal dari Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Namun hanya sebagian kecil masyarakat memelihara secara intesif, sedangkan kebanyakan kurang mengurus anjingnya dan dibiarkan berkeliaran, kadang lupa memberi makan, walaupun rasa memiliki anjing tersebut tetap besar. Ironisnya sampai saat ini sebagian masyarakat ada yang beranggapan setiap anjing yang berbulu tebal (gembrong) berasal dan daerah Kintamani tanpa ciri-ciri yang jelas disebut Anjing Kintamani. Pemyataan itu tidak bisa disalahkan, karena sejarah Anjing Kintamani sampai sekarang belum ada yang mengungkapkan asalusulnya., yang banyak ditulis adalah hubungan manusia dan anjing. Diisyaratkan melalui legenda, hikayat, dongeng-dongeng ataupun melalui lukisan ataupun relief pahatan para seniman pada masanya. Bahkan Cites Gilimanuk hanya mengungkap keberadaan hubungan antara manusia dan anjing. Barangkali hubungan ini terjalin sejak era Bali kuno.

Perjalanan Sejarah

Mulai tanggal 05 Mei 1981 sampai dengan bulan Mei 1982 penulis berbekal Niat, Tekat, Hobby dan Pengalaman yang sedikit mencoba melakukan pengamatan terhadap seluruh populasi anjing yang ada di Pulau Bali, dan dapat disimpulkan secara umum terdapat 3 performan:
Anjing Bastar yaitu perpaduan antara anjing ras dengan anjing ras tak sejenis atau persilangan antara anjing local dan ras tertentu, sehingga mempunyai performan yang vaniatif, kebanyakan berada di kota Denpasar dan kota-kota kabupaten serta daerah Kecamatan Kuta.

Anjing berbulu pendek, anjing ini seperti yang terdapat di kota-kota di Pulau Jawa atau kota lainnya dan umunmya disebut dengan anjing gladak. Di Bali banyak dijumpai di daerah dataran rendah dan kawasan pantai seperti Gilimanuk.

Anjing berbulu tebal (gembrong), banyak dijumpai di daerah dataran tinggi atau daerah pegunungan. Anjing jems ini dominan populasinya di kawasan pegunungan Batur- Kintamani.
Setelah melihat performan secara umum,dilanjutkan mengamati distribusi warna bulu pada anjing-anjing yang berbulu pendek dan dilanjutkan pada anjing-anjing yang berbulu tebal (gembrong). Hasil pengamatan yang dilakukan pada Juni 1982, terhadap anjing-anjing berbulu pendek yang berada di lingkungan Banjar Dharma Santhi dan sekitarnya di- peroleh data warna Ilitam-Putih mendominasi 57,8 %, Warna Putih 17,1 % dan wama Hitam 9,3 %. Dan jumlah populasi 64 ekor.

Pada bulan Juli 1982 dilakukan pengamatan terhadap Anjing Gembrong di Banjar Dharma Santhi dan sekitarnya, diperoleh data Anjing Berbulu Putih Spesifik dominan yaitu yaitu 42,1%, Hitam 18,4 %, Hitam-Putih 15,7 %, warna lainnya 23.5 % (Coklat-Putih; Cokiat Kemerahan atau Blangbungkem; Hitam-Coklat-Putih atau disebut warna Anggrek/Poleng), dari jumlah populasi 38 ekor.

Pada tanggal 13 Mci 1984 penulis berkenalan dengan Bapak Letkol-Pol. Drs.Gde Made Wismaya menjabat KaSat Serse POLDA Nusra, beliau ini menaruh perhatian yang besar terhadap anjing-anjing yang ada di Pulau Bali dan melatih anjing-anjing lokal tersebut sebagai alat Sistim Pengamanan Lingkungan, ternyata cukup berhasil walaupun tidak sehebat anjing-anjing ras yang dimiliki oleh POLDA-NUSRA pada waktu itu. Hal ini mendorong penulis untuk lebih optimis bahwa anjing-anjing yang jauh dan kasih sayang perniliknya dan sehari-hari mengkais makanan di tempat sampah, bila diperlakukan dengan baik serta mendapat didikan yang baik dapat bermanfaat ganda yaitu sebagai pet animal (hewan kesayangan) dan karya guna.
Selanjutnya dilakukan penelitian dengan judul Prevalensi Pemetaan Populasi Jenis Bulu Anjrng Di Kawasan Pulau Bali, kesimpulannya dan hasil analisa statistik pada anjing bulu tebal (gembrong) populasinya tinggi di daerah dataran tinggi dan dataran sedang, bila dibandingkan dengan anjing-anjing berbulu pendek ataupun berbulu panjang. Di dataran rendah anjingjenis bulu pendek dominan populasinya, sedang anjing jenis bulu panjang dominan populasinya di dataran tinggi.

Bulan Februari 1985 dengan Dra. Wenny.E.Ressang. Groenewegen,DVM, beliau adalah istri Prof.Dr. Abdul Aziz Ressang,DVM,MD. Yang pada waktu itu diperbantukan oleh WAD Project dalam Bali Cattle Disease Investigation Unit berkedudukan di Denpasar - Bali. Ibu W.E.Ressang ini seorang kinolog dan berpengalarnan sebagai pembiak anjing di Wekerom - Belanda, penulis banyak berguru kepada beliau tentang segala sesuatu rnengenai peranjingan, dan secara bersama-sama melakukan pengamatan terhadap adanya kesempatan Anjing Bali sebagai model Ras pertama Indonesia. Pada saat itu pula melalui diskusi perhatian penulis dialihkan kepada jenis anijng berbulu gembrong dan diberikan contoh apa yang telah beliau lakukan yaitu memuliabiakkan anjing gembrong warna putih spesifik, sepasang anjing dinamai Cicing (jantan), Kinta (betina), penulis memelihara anjing berbulu gembrong berwarna putih spesifik jantan bemama Rambo kelahiran Tajun 22 September 1985 dan sebelumnya telah memelihara seekor betina warna poleng (anggrek) dengan nama Kreg dipungut dari pinggir jalan karena dibuang oleh pemiliknya pada tangal 17 November 1984. Pada bulan Agustus 1985 Kreg dikawinkan dengan Broni anjing jenis bulu yang sana temyata dan 4 ekor anaknya, 3 ekor distribusi warna nya sangat berbeda dengan induk dan pejantannya, sedang 1 ekor sama dengan induk dan pejantannya. Sedangkan perkawinan Cicing dan Kinta menghasilkan 3 ekor anak betina nama Ayu, Asih, Arie, semua ditribusi warna bulu mirip dengan induk dan pejantannya. Akhirnya penulis mengikuti langkah yang dilakukan oleh Ibu W.E.Ressang, dengan membeli seekor betina bernama Batur dan Pan SiwaKintamani. Diikuti pula oleh drh.Hartaningsih,MVSc, dengan anjing betina bernama Lulus, drh,Mas Djoko Rudyanto dengan anjing betina bernama Tessy dan drh. Dewa Made Ngurah Dharma,MSc dengan anjing jantan bernama Polong, anjing betina bernama Novi.

Pada saat itu Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Bali dijabat Bapak drh.I Gusti Ketut Oka Ranuh, melalui kelakar santai penulis ungkapkan tentang hal-hal yang telah dilakukan Ibu W.E. Ressang dan penulis ternyata mendapat sambutan dan Bapak Oka Ranuh dan melalui Pertemuan Ilmiah bulanan P.D.H.I cabang Bali pada tanggal 10 Mei 1985 Dra. W.E.Ressang-Groenewegen,DVM orasi dengan judul Dapatkah Anjing Kintamani dijadikan Ajing Ras. Dilanjutkan oleh penulis pada tanggal 26 Juli 1985 dengan judul Mencari Anjing Ras Asli Bali. Kemudian diadopsi sebagai program kegiatan P.D.H.I. cabang Bali dan pada tanggal 3 November 1985 digelar Kontes dan Pameran Anjing Bali yang pertama.

PERKIN (Perhimpunan Kinologi Indonesia) merespon hal tersebut dan berangsur-angsur memberikan bimbingan teknis dan mensertifikasi hingga sekarang.

Dalam perjalanannya para pemerhati mendirikan Yayasan Dharma Saramnya Bali kemudian menjadi Yayasan Anjing Bali. Selanjutnya para penggemar membentuk paguyuban penggemar bernama PANTRAB (Perkumpulan Penggemar Anjing Trah Bali). Karena PERKIN cabang Bali belum terbentuk dan untuk mempermudah komunikasi antara PERKIN Pusat dengan para penggemar anjing trah Bali, sebagai perpanjangan tangan PERKIN di Bali dibentuk suatu wadah yang dinamakan Komisi Anjing Bali yang para pengurusnya perpaduan antara pengurus PERKIN Pusat dan pengurus PANTRAB.
bersambung........

4/20/2004

Dachshund, Pemburu Tangguh di Atas dan di Dalam Tanah...

Dachshund yang seringkali juga disebut anjing ‘wiener’ atau ‘hot dog’ merupakan trah yang sangat populer. Anjing ini berasal dari Jerman, dan di sana disebut ‘teckel’. Sejarah perkembangan trah ini berlangsung lambat tapi pasti, dan telah melewati masa seabad lebih, yaitu sejak dibentuknya German Dachshund Club atau Deutscher Teckelklub pada tahun 1888. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa trah ini telah berumur lebih dari 4.000 tahun, dibuktikan dengan ditemukannya gambar-gambar anjing mirip dachshund di relief-relief piramida Mesir. Pendapat lainnya bahkan lebih ekstrim lagi, menyatakan bahwa anjing ini telah ada sejak 25 abad silam, seperti diungkapkan Major Emil Ilgner dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1896 (Lois Meistrell, The New Dachshund, Howell Book House: New York, 1989). Namun demikian semua pihak agaknya sepakat bahwa bagaimanapun juga dachshund yang kita lihat saat ini merupakan hasil pengembangan para pembiak di Jerman yang menginginkan anjing pemburu yang cerdas, tidak mengenal rasa takut serta dapat difungsikan di berbagai jenis medan, baik di atas maupun di bawah tanah.

Dalam bahasa Jerman, kata ‘dachs’ berarti musang dan ‘hund’ berarti anjing, sehingga dachshund berarti anjing musang. Dan memang demikianlah halnya, pada awalnya anjing ini dibiakkan secara khusus untuk berburu musang. Dalam perkembangan selanjutnya binatang buruannyapun bervariasi hingga melampaui ukuran tubuhnya: dari musang, kelinci, serigala hingga babi hutan. Anda tidak akan pernah menemukan trah anjing lain yang demikian ‘bernafsu’ mengejar musang dibandingkan anjing ini. Bahkan anjing dachshund yang terkecil sekalipun pun tidak akan memiliki rasa takut dan tetap memiliki naluri berburu yang kuat. Sehingga tidak mengherankan bila dalam standar dinyatakan bahwa, the dachshund should be “courageous to the point of rashness.”

Berbeda dengan anjing berburu lainnya yang kebanyakan digunakan untuk mengambil (retrieve) binatang buruan, dachshund juga dilatih untuk membawa, mengejar dan bahkan membunuh binatang buruan. Hal ini akan tergambar bila Anda memberikan mainan kepadanya: dia akan mengikuti naluri membunuhnya dengan menghancurkan mainan tersebut secepatnya.Sesuai dengan tujuan awal pembiakannya, trah ini merupakan satu-satunya anjing pemburu yang tampil hebat di atas permukaan tanah sekaligus di dalam bawah tanah. Seluruh bagian tubuhnya, yang bagi kebanyakan orang terlihat sangat lucu, sepertinya telah menjawab semua kebutuhan untuk mencapai tujuan tersebut. Kaki yang pendek memungkinkan Dachshund mengejar musang hingga masuk ke sarangnya di dalam bawah tanah. Ekor yang panjang, kuat dan lurus memudahkan pemiliknya menarik ketika ‘ngerong’ di lubang dalam tanah. Telapak kakinya yang besar, lebar, kuat dan berbentuk dayung menjadi alat penggali yang efisien. Kulit tubuhnya yang luwes (loose) membuatnya tidak mudah lecet ketika masuk ke lubang-lubang atau terowongan sempit. Dachshund juga memiliki dada yang besar sehingga kapasitas paru-parunya mampu mendukung kegiatannya berburu. Hidungnya yang panjang membuat area indera penciumannya lebih luas sehingga lebih peka. Gonggongannya yang sangat kuat, terutama bila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, memudahkan pemilik mengetahui posisinya ketika sedang mengejar buruan di lubang-lubang bawah tanah. Tulang dan ototnya yang sangat kuat, membuat kecepatan larinya jauh di atas perkiraan kita. Saat ini, dachshund terbagi dalam tiga varitas bulu: mulus (smooth), berbulu sedang (wirehaired) dan berbulu panjang (longhaired). Trah ini juga muncul dalam dua ukuran: standar (berat lebih dari 12 pound pada umur 12 bulan) dan kecil/miniature (berat kurang dari 11 pound pada umur 12 bulan).Popularitas serta bentuknya yang unik menjadikan dachshund pilihan favorit bagi para seniman (pelukis, pemahat/pematung, dll.), illustrator, pencipta mainan serta industri periklanan. Selama abad 19 dan 20 berbagai macam barang bermotif dachshund telah dibuat: hiasan-hiasan berbahan keramik, logam, kayu, dll.; cangkir, gelas, tempat bumbu, dsb.; mainan anak-anak, perlengkapan sekolah dan kantor, dan lain sebagainya. (Poerwadi Waspodo, 20 April 2004).

4/07/2004

Pomeranian, Anjing Mungil Kesayangan Ratu Victoria...

Pomeranian atau Pom adalah anjing mainan (toy dog) yang berukuran kecil namun kokoh dan kuat, merupakan keturunan anjing penarik kereta luncur dari Islandia dan Lapland. Tinggi bahu kira-kira 6 inci (15,3 cm) dan berat berkisar 3 hingga 7 pound (1,4 – 3,2 kg). Memiliki bulu berlapis (ganda) terdiri atas bulu bagian dalam yang pendek, halus dan lembut serta bulu bagian luar yang lebat, panjang, lurus dan kaku sehingga membentuk semacam gembrong yang tebal di sekitar leher dan punggung. Dia juga memiliki bulu berjuntai di tubuh bagian belakang. Pom tampil dalam berbagai warna seperti merah, krem, hitam, coklat, oranye, sable, biru, putih dan multi-warna yang seringkali disebut parti-color. Kelebatan bulu yang dimiliki menimbulkan kesan Pom sulit dirawat, padahal sebenarnya tidak. Cukup dengan melakukan penyisiran secara teratur maka kondisi bulu akan tetap terjaga.

Nenek moyang terdekat Pom adalah anjing gembala, berukuran lebih besar, dan biasa digunakan untuk menggembala domba di Eropa. Ratu Victoria adalah orang pertama yang membawa contoh Pom berukuran kecil dari Italia ke Inggris pada akhir abad ke-19, dan sejak itulah Pom menjadi sangat populer. Mereka menjadi anjing peliharaan rumah yang bagus, menawan dan kuat, berlawanan dengan penampilannya yang berkesan rapuh.
Pomeranian berhubungan dengan family Spitz, anjing berbulu halus yang berasal dari wilayah berangin kencang Arctic. Mereka sangat dikenal kemampuannya sebagai anjing penarik beban, anjing pemburu dan anjing penjaga.

Pom mendapatkan namanya dari Pomerania, sebuah propinsi kecil di wilayah Jerman bagian timur. Pada jaman Renaissance anjing Pom Jerman sangat digemari oleh orang-orang Eropa, meskipun saat itu bobot mereka masih sekitar 35 pound.
Michelangelo memiliki seekor anjing Pomeranian yang dengan sabar mengamatinya melukis langit-langit Kapel Sistine. Isaac Newton memiliki seekor Pom bernama Diamond. Mozart memiliki seekor Pom betina bernama Pimperl, dimana kemudian Mozart menggubah sebuah nyanyian tunggal (aria) yang dipersembahkan untuknya dan Chopin sangat terpesona oleh anjing Pom pacarnya sehingga menggubah "Valse des Petits Chiens" untuk anjing itu.

Pada tahun 1761, Charlotte, seorang gadis berusia 17 tahun dan berasal dari sebuah propinsi di dekat Pomerania, pergi ke Inggris dan menikah dengan Raja George III. Dialah orang pertama yang membawa anjing-anjing Pom ke Inggris. Pada umumnya mereka berwarna putih dan beratnya lebih dari 20 pound. Cucu Charlotte, sang permaisuri, adalah Putri Victoria yang sangat menyayangi anjing. Ketika suaminya (Pangeran Albert) tiba-tiba sakit dan meninggal pada tahun 1861 di usia 42 tahun, maka cinta dan kesedihannya yang mendalam dia tumpahkan kepada anjing-anjing kesayangannya. Dia memelihara lebih dari 15 jenis trah anjing selama hidupnya, dan di saat-saat akhir perhatiannya terfokus pada trah Pomeranian.

Pada tahun 1888 Ratu Victoria melakukan perjalanan ke Italia. Di sana ia membeli seekor Pom berwarna merah sable bernama Marco dan membawanya ke Inggris. Dalam perjalanan yang sama ke Florence (1888) Ratu Victoria juga membeli tiga anjing Pom lainnya.
Berat Marco hanya 12 pound sehingga banyak sejarawan anjing mengacu kepadanya sebagai pemicu timbulnya keinginan membiakkan Pom berukuran kecil. Marco sering mengikuti lomba dan memenangkan banyak penghargaan. Anjing terkenal lainnya setelah Marco adalah seekor anjing mungil yang lucu bernama Gina. Dia juga meraih juara (champion) di London Dog Shows.
Terdorong oleh kennel Sang Ratu, para penggemar anjing di Inggris mulai membiakkan Pom dengan ukuran lebih kecil. Ketika bobot anjing Pom dewasa mulai menembus di bawah 8 pound, mereka menyebutnya Toy Pomeranian. (Poerwadi Waspodo, 7 April 2004)

2/20/2004

Akita Inu, Anjing Para Shogun..

Sejarah Akita sebagai anjing trah bermula kira-kira 300 tahun yang lalu di Jepang. Namanya diambil dari suatu wilayah yang terletak di bagian Utara Pulau Honshu. Pada awalnya, anjing ini digunakan berpasangan jantan-betina dalam lomba perburuan binatang seperti beruang Yezo yang memiliki berat 800 pon, antelope, elk, babi hutan dan rusa. Mereka bertugas untuk melacak, menangkap dan memegang binatang buruan sampai tuannya datang untuk membunuh binatang buruan tersebut. Selain itu, mereka juga digunakan untuk menangkap unggas di perairan karena mereka memiliki mulut yang ‘soft”. Ketika itu, Akita hanya dimiliki oleh para Shogun, para bangsawan yang berkuasa di wilayah-wilayah di Jepang. Memberi anak anjing Akita kepada keluarga yang baru memiliki anak dianggap akan membawa keberuntungan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Akita digunakan pula sebagai anjing penjaga, penggembala dan aduan. Trah ini memiliki kecerdasan dan daya tahan yang tinggi. Ketajaman penciuman, penglihatan dan pendengarannya menjadikan Akita anjing penjaga yang dapat diandalkan.

Dua kemunduran utama berkaitan dengan trah ini terjadi di akhir abad ke 19. Pertama, persilangan antara Akita dengan anjing aduan Jepang, Tosa, berpengaruh pada ukuran dan sifat agresifnya. Kedua, mewabahnya penyakit rabies di Jepang yang menjangkiti lebih dari 3.000 anjing dan berakhir dengan pemusnahan seluruh anjing yang ada, baik yang terjangkit maupun tidak.

Di awal tahun 1900-an, terdapat dua kejadian positif yang mendukung perkembangan Akita. Pertama, adalah cerita tentang Hachi-ko, anjing Akita paling terkenal sepanjang masa. Setiap tahun di stasiun kereta api Shibuya, Tokyo, diadakan upacara khidmat untuk mengenangnya. Ratusan penggemar anjing berkunjung untuk memberikan penghormatan atas kesetiaannya dan pengabdiannya.

Hachi-ko yang lahir pada bulan November 1923 di wilayah Akita, Jepang, adalah anjing piaraan setia Dr. Eisaburo Ueno, seorang professor di Tokyo Imperial University. Seperti sifat dasar anjing Akita lainnya, Hachi-ko segera menyatukan hidupnya dengan si profesor tua. Setiap hari Hachi-ko mengantar tuannya ke stasiun untuk berangkat bekerja. Setiap sore, Hachi-Ko akan kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya.

Pada suatu sore di bulan Mei 1925, Professor Ueno tidak kembali. Ia meninggal siang itu di universitas. Hachi-ko, Akita yang setia, menunggunya di stasiun sampai tengah malam. Hari berikutnya, sampai sepuluh tahun berikutnya, Hachi-ko kembali ke stasiun untuk menunggu tuan kesayangannya dan pulang kembali dengan tangan hampa. Tak ada sesuatupun dan seorangpun yang mampu mengurangi semangat dan kewaspadaan Hachi-ko dalam penantiannya setiap malam. Suatu malam, kepala stasiun menyadari kehadiran Hachi-ko, dan iapun mulai memberi makan dan tempat berteduh. Hachi-ko menjadi land-mark. Kebiasaannya diketahui oleh para penumpang dan masarakat se kota. Hal ini terus berlangsung hingga kematiannya di bulan Maret 1935. Berita ini menyebar luas di Jepang. Pemberitaan yang bertubi-tubi di surat kabar membangkitkan usulan untuk membangun sebuah monumen di stasiun. Bantuan dari Amerika dan beberapa negara lainnya berdatangan. Pada tahun 1943, sebuah patung perunggu Hachi-ko dibuat dan diletakkan di stasiun Shibuya, dimana dia selalu menunggu tuannya dengan setia. Namun, pada perang dunia ke-dua, seluruh patung diambil oleh pemerintah untuk digunakan sebagai bahan baku peluru. Setelah perang, tepatnya tahun 1948, jawatan kereta api mendirikan patung Hachi-ko yang lain. Uniknya, putera Tera Ando, pembuat patung pertama, diminta untuk mengawasi pembuatan patung yang ke-dua. Saat ini, patung tersebut tetap berdiri di stasiun Shibuya, perlambang kesetiaan, keyakinan dan kecerdasan anjing Akita.

Kejadian positif ke-dua adalah kehadiran Hellen Keller di Jepang pada tahun 1937. Dia menunjukkan perhatian yang mendalam pada anjing Akita dan membawa dua ekor anjing Akita pertama ke Amerika. Sayangnya, seekor diantaranya mati muda, dan seekor lainnya menemani Hellen Keller hingga kematiannya di tahun 1945.

Perang dunia ke-dua mengakibatkan anjing Akita di ambang kepunahan. Banyak Akita mati karena dibunuh dan dimakan oleh orang-orang yang kelaparan dan kulitnya dijadikan bahan pakaian. Yang lainnya diperintahkan untuk dibunuh guna menghindari penyebaran penyakit. Satu-satunya jalan bagi para pemilik anjing untuk menyelamatkannya adalah dengan membawanya ke daerah-daerah terpencil di gunung-gunung. Disanalah kemampuan berburu dan daya tahan yang dimiliki membantunya bertahan hingga perang berakhir. (Poerwadi Waspodo, 20 Februari 2004)

2/02/2004

Merawat Bouvier des Flanders

Jakarta – Tampangnya lucu. Sekujur tubuh anjing ini dibaluti bulu kasar yang menjuntai. Di bagian kepala, bulu kasar itu hampir menutupi kedua matanya. Tubuhnya yang kompak makin menunjukkan kekuatan besar tanpa ada kejanggalan. Apalagi didukung tatapan yang waspada dan cemerlang. Dari situ, terpancar kecerdasan dan keberanian dalam diri.

Bouvier des Flanders adalah anjing unik. Walau punya face unik, berbulu kasar dan mata yang tertutup bulu, bukan berarti bouvier termasuk anjing berpenampilan lembut. Naluri sebagai anjing penjaga dan pekerja di tanah pertanian yang baik amat lekat dalam dirinya. Dengan tubuh yang kompak itu, ia punya gaya berjalan yang bebas, cantik dan bangga. Tubuh bagian depan anjing berpipi rata dan kurus ini disokong tulang yang kuat. Otot yang bagus dan lurus membungkus tulang depan itu. Bahu Bouvier des Flanders relatif panjang berotot namun tak berisi. Tulang humerus dan belikat kira-kira sama panjangnya. Kedua tulang ini membentuk sudut sedikit lebih besar dari 90 derajat saat berdiri. Lengan atas jika dilihat dari depan terlihat lurus. Sejajar satu dengan yang lain dan tegak lurus terhadap tanah.

Di negeri asalnya, Belgia, bouvier dikenal sebagai penggembala ternak. Ia juga membantu para petani mengawasi ladang dan menarik kereta. Di Prancis, bouvier paling jago menggembala sapi atau lembu di daerah pertanian yang luas. Jadi jangan heran bila petani Belgia, menjulukinya sebagai Vuilbaard (jengot kotor) atau koe hond (anjing sapi). Sebagai anjing penjaga, bouvier punya sifat yang patut diacungi jempol. Ia setia, loyal, tak kenal takut dan protektif. Di dalam dalam rumah, bouvier tak pernah rewel. Ia terbiasa berkelakuan baik dengan pembawaan tenang. Saat diajak berpetualang keluar rumah, bouvier oke-oke saja. Hanya saja ada yang perlu diperhatikan. Kadang, pede (percaya diri) bouvier terlalu over. Anjing berpostur tegap ini bisa bersifat menguasai dan protektif terhadap anjing asing. Ia tak segan-segan untuk menyerangnya. Meski begitu, bouvier paling suka menyenangkan tuannya. Ia pun dikenal sangat ramah pada anak-anak. Bouvier punya bulu ganda hingga mampu menuntaskan pekerjaan keras di segala cuaca. Bulu bagian luarnya kasar sedang bagian yang halus ada di lapisan bawahnya. Selain halus, bulu bagian dalam ini punya warna yang berkilau dan halus. Karena punya bulu dobel, bouvier lebih suka diperbolehkan bermain di dalam dan di luar ruangan.

Jika memelihara bouvier ada beberapa hal yang kudu diperhatikan. Kita tak boleh malas melatih anjing ini setiap hari. Bouvier harus selalu diajak berinteraksi setiap hari. Latihan rutin itu takkan sia-sia. Ia akan bisa melakukan perintah seperti duduk, tinggal dan berdiri. Bouvier juga senang jika diajak joging, berjalan-jalan maupun bermain-main. O iya, anjing bertulang kuat dan berotot ini paling doyan main bola. Lincah sekali. Bulu-bulu kasar yang tebal itu juga harus diperhatikan. Bulunya yang tahan segala cuaca itu berlapis dan kusut. Jika bulunya panjang sampai enam sentimeter lebih, maka sudah perlu dicukur. Selain itu, bulu kasar itu perlu disikat setiap satu atau dua kali seminggu. Agar terlihat rapi, tiap tiga bulan digunting dan dibentuk. Daya pikat bouvier yang lain, ada pada jenggot, kumis dan alis mata yang tebal. Kepalanya yang ditonjolkan dengan kumis dan jenggot itu membuatnya tampak cantik dan punya ekspresi waspada.

Meski bouvier termasuk anjing yang kuat. Bukan berarti ia tak pernah terserang penyakit. Menurut para penggemar Bouvier des Flanders, anjing ini mudah terserang penyakit CHD. Ia juga bisa terserang gastric torsion. Kadang-kadang, ada bouvier yang terjangkit entropion. Itu sebabnya, jangan segan untuk memeriksakan pinggul anjing yang bisa hidup sampai 12 tahun ini. Penyakit rawan bagi bouvier justru gatal-gatal. Ini bisa terjadi sebab bulu anjing ini panjang. Sebagai pencegahan, kita harus rutin meng-grooming (menyikat dan menyisir) bulu-bulu kasarnya. Dengan cara ini, bouvier akan terhindar dari penyakit gatal-gatal. Kalau sudah terlanjur terserang penyakit ini, bawalah bouvier ke dokter hewan. Penyakit gatal-gatal itu bisa menular ke anjing yang lain. Tentu ini berbahaya. Jadi jangan malas pergi ke dokter hewan untuk mengobati bouvier. Tapi bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati. (bay/berbagai sumber) - (Sinar Harapan, 15 Januari 2003)